Berita seputar sepakbola terkini akan sedikit memberikan ulasan tentang prediksi bola, jadwal sepakbola teruupdate serta berbagai rangkuman informasi Liga Indonesia, Champions serta kompetisi Eropa lainya.
Berita olahraga dan Prediksi skor laga terkini seputar kejadian dan info terhangat dari lapangan hijau, serta berbagai persiapan tim, gosip, infotaiment, jadwal bola, prediksi skor, Liga Champions, Indonesia, Spanyol, Inggris, Italia, dan juga berita terkini MotoGP.
Get Bola: Vaan Gal Yang Anomali dengan Philosopy
Ketika Louis van Gaal mengungkapkan bahwa Manchester United masih bisa menjadi juara, kita mengernyitkan dahi. Mungkinkah si meneer melihat sesuatu yang tidak kita lihat?
Well, secara matematis memang tidak ada yang salah dari pernyataan Van Gaal. Tepat setelah mengalahkan Liverpool 1-0 di Anfield, United hanya berjarak tujuh poin dari pemuncak klasemen dan berjarak enam poin dari Manchester City yang ada di posisi ketiga. Dengan sisa 16 laga, secara matematis peluang United memang masih ada –sekali lagi, secara matematis.
Namun, ada alasan mengapa kita semua mengernyitkan dahi mendengar pernyataan Van Gaal. Melihat permainan United di atas lapangan, rasanya sulit membayangkan tim semonoton itu bisa mengangkat trofi. Bahkan, ketika menundukkan Liverpool, United amat jarang membuat peluang bersih. Satu-satunya gol mereka pada laga tersebut lahir dari satu-satunya shot on targetmereka.
Tidak perlu bedah laboratorium untuk menyebut United monoton. Lihat saja jumlah gol: Dari 23 kali berlaga di Premier League musim ini, United baru mencetak 28 gol. Jumlah gol mereka sama dengan Sunderland yang kini berada di zona degradasi dan lebih buruk dari Chelsea –yang sudah mencetak 31 gol–, padahal The Blues menjalani musim yang tidak menyenangkan.
Mengapa jumlah gol United amat sedikit? Statistik berikut bisa sedikit menjawab pertanyaan. Dalam catatan Opta, United baru menorehkan 35 shot on target pada laga-laga yang berlangsung di Old Trafford. Tidak ada tim di Premier League yang menorehkan shot on target lebih sedikit dari United ketika berlaga di kandang sendiri. Lalu, berapa jumlah gol yang dihasilkan di Old Trafford pada laga Premier League musim ini? Baru 12.
Statistik itu terbilang mengejutkan. Jika sebuah laga kandang dianggap sebagai sebuah keuntungan bagi sebuah kesebelasan, maka jelas bahwa United tidak memanfaatkan keuntungan tersebut dengan baik.
laga menghadapi Southampton pada Sabtu (23/1) malam menjadi contoh jelas ketidakdapatan United untuk mengkreasikan peluang bersih atau melepaskan tendangan tepat sasaran. Satu-satunyaattempt on target mereka pada laga tersebut berasal dari tendangan Daley Blind –yang bermain sebagai bek tengah– yang dilepaskan dari jarak sekitar 27 meter. Jauh di luar kotak penalti.
Aneh, memang, untuk manajer seperti Van Gaal, yang di masa lalunya pernah sukses menangani tim seofensif Ajax dan Barcelona, menerapkan pola yang teramat rigid. Pria asal Belanda itu seperti takut untuk membiarkan anak-anak asuhnya berkreasi dengan bebas di lini depan.
Van Gaal memang gemar menerapkan role (peran) yang teramat detail bagi para pemainnya –tak terkecuali di Ajax atau Barca–, yang mana membuat timnya bergerak selayaknya mesin. Namun, roleyang ia terapkan kepada pemain-pemainnya di United terbilang absurd.
Simak bagaimana Paul Scholes protes melihat United melakukan sideway football –lebih banyak mengoper ke samping ketimbang ke depan. Sideway football sendiri sebenarnya tidak buruk, Barcelona saja sering mengandalkan kedua fullback dan dua penyerang sayap mereka untuk menyerang. Ketika Lionel Messi absen di paruh awal musim ini, poros serangan beralih kepada Neymar di sisi kiri.
Namun, patut diingat pula bagaimana cairnya lini depan Barca. Sementara Neymar dan Messi punya kedapatan dribel mumpuni, pemain-pemain Barca lainnya juga cukup rajin bergerak mencari ruang. Singkat kata, pergerakan off the ball pemain-pemain Barca cukup bagus. Lihat bagaimana gelandang tengah Barca, Ivan Rakitic, tahu-tahu muncul di dalam kotak penalti dan menyelesaikan peluang.
United, di sisi lain, punya cukup banyak pemain ofensif di lini depan, namun justru permainan mereka amat kaku. Seolah-olah, hanya Anthony Martial –dipasang di sisi kiri– yang diberikan izin untuk bergerak bebas dan menggiring bola. Sementara para pemain lainnya baru bergerak begitu bola sudah masuk ke dalam kotak penalti. Ini yang membuat United tampak sulit untuk masuk ke dalam kotak penalti lawan.
Heatmap Manchester United ketika menghadapi Southampton, Sabtu (23/1/2016), jarang masuk ke dalam kotak penalti lawan. (Sumber: Opta).
Simak heatmap United ketika menghadapi Southampton akhir pekan lalu. Mereka hanya berputar-putar di tengah dan sisi samping lapangan. Ada beberapa alasan mengapa United kerap berputar-putar saja dan mengalirkan bola ke samping, tanpa ada penetrasi dari tengah. Pertama, dua orang pemegang bola (Martial dan Juan Mata) ditaruh di sisi sayap, oleh sebabnya wajar jika bola dialirkan ke samping. Kedua, peran (role) keduanya disetel sebagai “winger“, alih-alih sebagai “inside forward” ataupun “wide playmaker“.
Dengan bermain sebagai “winger“, Martial dan Mata jadi punya kewajiban untuk bermain selebar mungkin. Jarak mereka dengan kotak penalti begitu jauh. Van Gaal pernah mengkritik Mata dengan mengungkapkan pemain Spanyol itu minim melakukan tusukan atau dribel dari sisi sayap. Padahal, kita semua tahu, Mata memang bukan tipikal pemain yang mengandalkan kecepatan. Dia tidak pernah dikenal sebagai pemain yang cepat. Di sini saja, peran yang diterapkan Van Gaal kepada pemainnya sudah menunjukkan anomali.
Andai dimainkan sebagai “inside forward“, kedapatan Mata mungkin bisa lebih berguna. Mata memang tidak cepat, namun ia cerdas. Kedapatannya melepas operan cepat bagus dan penempatan posisinya oke. Jauh lebih baik ketimbang memintanya menggiring bola dari pinggir. Dengan kecerdasannya, Mata bisa dipergunakan untuk mencari celah dan mengeksploitasi half-space (area di antara fullback dan bek tengah di lini pertahanan).
Tidak percaya? Lihat gol kedua Juan Mata di Anfield pada musim 2014/2015. Sebelum menerima umpan dari Angel Di Maria, ia dengan jeli melihat celah di lini pertahanan Liverpool, masuk ke dalamnya, dan melepaskan tendangan sembari menjatuhkan badan.
Mengubah peran Martial dari sekadar “winger” menjadi “inside forward” bisa jadi juga lebih banyak membantu. Ketimbang memintanya menggiring bola dengan jarak yang begitu jauh dari kotak penalti –dan oleh sebabnya dipaksa berhadapan dengan lebih banyak pemain lawan–, menggunakan sprint pendeknya untuk mengeksploitasi half-space bisa jadi lebih berguna. Catat, hal serupa bisa juga diterapkan kepada Memphis Depay, yang sejauh ini penampilannya masih belum memuaskan.
Itu baru persoalan penetrasi dari pinggir. Bagaimana dengan penetrasi dari tengah? Ketiadaan pemain yang bisa melepas direct ball –kecuali Michael Carrick– bisa jadi satu persoalan. namun, United juga tidak punya cukup kecepatan di area tersebut. Wayne Rooney, yang kerap dipasang sebagai penyerang tengah ataupun penyerang lubang, mulai kehilangan kecepatan. Rooney bahkan kesulitan menaklukkan bek-bek uzur seperti Fabricio Coloccini (34 tahun) dan Kolo Toure (34 tahun). saatu mau, mungkin sudah waktunya Rooney tidak diberikan beban macam-macam, tenamun cukup menerima bola saja di dalam kotak penalti.
Aneh, memang, sebab Ajax dan Barcelona-nya Van Gaal dulu bermain lebih ofensif dan cair daripada United sekarang. Van Gaal seolah-olah takut untuk bermain lepas di Premier League. Maka, ketimbang disebut “filosofi”, ini lebih patut disebut sebagai “anomali”.
Demikian hasil ulasan Vaan Gal Yang Anomali dengan Philosopy dan ikuti perkembangan berita bola terkini dan prediksi bola menarik lainnya di situs Getbola.net.